Pages

Senin, 05 Juli 2010

(Rani, 2010)

Setahun yang lalu gue kenal dia dengan nama deno. Ga ada kisah yang perlu gue inget. Coz everything is about him. Dia temen sekelas gue. Dia cerdas tapi agak temperamen sih, suka futsal. Perfect man i think with balance skill. Orang yang paling dia sayangi adalah ibunya. Kadang dia mencoba untuk bisa masuk dalam semua pergaulan. Supel.
Lumayan humoris walau rada garing. Dia suka kerapihan dan kebersihan. Suka menjaga apa pun yang dia miliki. Merencanakan segala sesuatu dengan sempurna. Sangat sopan. Tapi kurang perjuangan. Kadang jenuh dengan hal-hal yang sangat ia sukai. Langkah kakinya penuh kepastian. Saat berjalan penuh tatapan masa depan. Satu hal yang kurang. Senyuman.
Mungkin ga banyak yang gue tau tentang dia. Gue cuma tau dia pernah jadi temen sekelas gue, pernah jadi topscore, rumah di cimanggu, punya adik cewek satu seumuran gue, zodiak sagitarius.
Walaupun sesingkat itu gue mengenal dia, tapi banyak pelajaran yang dia kasih ke gue, entah itu sebagai kakak atau pun teman. Thanks :-)

(adapted from Rany Puspa Pijayanti)

Selasa, 29 Juni 2010

180 DERAJAT

Beberapa bulan yang lalu saya bertemu dengan teman baru. Pertama kali mengenal tidak ada yang tampak istimewa dari dirinya. Layaknya manusia biasa yang hidup untuk saling tolong-menolong. Walaupun kejamnya dunia mengalihkan fitrah manusia dari status manusia sosial.
Setelah beberapa hari mengenalnya dan selalu ada cerita yang dipertukarkan di antara kita berdua, akhirnya saya menemukan sesuatu yang luar biasanya dari dirinya. Dia berencana melakukan suatu perubahan yang saya anggap itu sangat besar dan mendasar, dan beberapa hari kemudian dia berhasil melakukan perubahan besar tersebut. Saya tidak menyoroti atau menitik-beratkan pada sosok individu tersebut, namun saya lebih menyoroti pada perubahan besar yang berhasil ia lakukan.
Sepintas saya terbesit untuk bisa melakukan perubahan itu. Jika orang lain bisa, mengapa saya tidak. Saya banyak bertanya kepada teman saya itu bagaimana bisa melakukan perubahan yang sangat signifikan dan nyata. Dia hanya mengatakan : NIAT. Jika hanya niat, saya pun sudah memiliki modal tersebut, tapi pasti ada "faktor lain" yang mendasari perubahan tersebut.

Ingin rasanya berubah 180 derajat dari diri saya sekarang. Saya menyadari bahwa sudah waktunya untuk menjadi sosok seorang yang memikirkan masa depan dengan lebih matang. Sudah saatnya membuat keluarga dapat hidup lebih layak. Sudah saatnya membuat orangtua duduk nyaman menikmati masa tuanya. Tapi, semua itu rasanya sulit, lebih sulit dibanding mengerjakan soal kalkulus atau menjaga Vennard Hutabarat di lapangan futsal. Dunia yang saya geluti sekarang terlalu indah, terlalu sulit untuk dilupakan. Namun, di usia saya sekarang yang beranjak memasuki nominal puluhan, dunia itu (rasanya) tidak cocok lagi bagi saya.
Sampai sekarang, saya masih mencari "faktor lain" yang didapat oleh teman saya dan belum saya miliki hingga saat ini. Semuanya butuh proses dan saya harap proses itu tidak berlarut-larut.

Sabtu, 26 Juni 2010

Haru Biru Mengiringi Kepergianmu Hei Teman Terbaikku

Masa-masa TPB yang penuh dengan perjuangan telah berakhir. Ditandai dengan keluarnya mahasiswa dari asrama masing-masing. Sungguh, satu tahun tercepat yang pernah saya alami salama hidup saya. Tapi, bukan berarti tidak ada kenangan apa-apa di balik itu semua. Justru sejuta cerita tersimpan untuk dikenang di masa depan kelak.
Langkah awal menjadi mahasiswa dimulai dengan melangkahkan kaki ke gedung asrama. Membuka pintu kamar yang selanjutnya akan menjadi tempat seluruh aktivitas sehari-hari.

Asrama menyimpan memori yang sulit dan sayang untuk dilupakan. Seluruh sendi-sendi kehidupan terjadi di asrama. Multibudaya menjadi tulang punggung asrama TPB IPB. Berbagai macam kultur, budaya, bahasa, ragam pakaian, agama, tingkah laku, bercampur berbaur dalam satu wadah dan ruang yang sama. Semuanya terstruktur, terprogram dengan baik. Namun, unsur fleksibilitas tidak dilupakan, tetap ada dengan batasan yang cukup.

Moment yang sangat berkesan adalah ketika masa-msa terakhir di asrama. Menyambut suatu kata yang sepertinya tidak disukai oleh semua orang : BERPISAH.
Ya, kita semua akan berpisah dari lingkup asrama, menuju tempat barunya masing-masing.
Hari-hari terakhir di asrama begitu berarti, setiap detiknya meninggalkan kesan yang dalam. Teringat satu tahun yang lalu ketika pertama kali menginjakan kaki di muka pintu kamar masing-masing. Membuat hati ini berat untuk keluar dari asrama. Komunikasi dengan teman-teman semakin intens. Canda, tawa, cerita tentang masa lalu menjadi menu utama setiap harinya. Sulit rasanya berpisah dengan orang-orang yang mempunyai ragam budaya. Sulit rasanya menemukan kembali suatu komunitas yang mempunyai tingkat diferensiasi tinggi.
Sampai akhirnya hari perpisahan pun tiba. Semua harus keluar dari asrama. Suatu keharusan yang sangat berat untuk ditaati. Namun, jiwa yang lapang mencoba melawan perasaan itu. Jabatan tangan, pelukan, kata-kata kenangan, menjadi kado penutup bagi teman-teman semua.
Selamat tinggal kawan-kawan terbaikku. Kita menuju dunia masing-masing yang lebih luas. Tetap rendah hati di kala kesuksesan menghampiri kita.
Nice !

Minggu, 14 Maret 2010

Menulis

Senin, 15 Maret 2010 1:03 AM
Di malam yang pekat ini masih terjaga di dalam kamar ditemani layar laptop diiringi siaran radio dari teman yang sedang bercuap-cuap membahas tema siarannya. Mata ini belum menunjukkan lelahnya, masih melihat dengan tajam, menerawang tulisan-tulisan yang sangat menantang.
Sejatinya sudah ingin terlelap sebelum pergantian hari, namun teman yang memberitahu jadwal siarannya. Tidak ada salahnya menemaninya siaran sembari sesekali request lagu yang sedang cocok dengan suasana hati. 107.7 Agri FM

HIGH TEMPERAMENT

Lagi-lagi sifat negatif ini muncul dan merugikan banyak pihak termasuk saya sendiri. Banyak orang yang sudah mengingatkan akan salah satu sifat buruk ini. Entah kenapa emosi ini sulit untuk dikendalikan. Meledak-ledak tak kenal waktu dan tempat. Namun, disatu sisi ingin melakukan sedikit pembelaan. Jika hati ini tidak dipancing, maka emosi itu pun tidak akan keluar. Jadi, jangan sesekali memancing emosi.
Saya akui saya bukanlah sang ksatria yang dapat menahan emosi dikala marah. Namun, jiwa ini selalu berusaha untuk menjadi jiwa yang tangguh dalam melawan emosi, meredam emosi. Hasilnya pun tidak instant. Butuh proses yang cukup panjang. Karena ini adalah karakteristik yang ada sejak lahir. Sama halnya merubah ideologi pancasila yang sudah lama dipakai oleh bangsa ini. Teringat nasihat menager futsal. Karakteristik jangan dihilangkan karena itu adalah ciri khas dari diri kita. Tapi, jika karakter itu digunakan pada waktu dan kondisi yang salah, akan menjadi boomerang untuk diri kita. Itu yang terjadi pada saat ini.
Please forgive me, mom !