Pages

Senin, 17 Juli 2017

Berilmu

Udah 3 malam nontonin tayanyan ILC episode "DPR vs KPK : Semakin Runcing". Wajar sampe 3 malem nontonnya, soalnya di Youtube dibagi jadi 8 part. Total waktunya mungkin lebih dari 3 jam atau mungkin sampe 4 jam, yang jelas lama dan mengasyikkan. Hal yang dibahas soal hukum and politik. Bener2 mendalam, bener2 ilmu tinggi. Gw sendiri sebenernya kurang tertarik and kurang paham mengenai politik dalam arti mendalam dan dalam arti luas dan dalam arti yang sebenar-benarnya. Hanya saja melihat tayangan kali ini bener-bener ngebuat gw kuat megangin hp dalam waktu lama buat liat orang-orang yang berilmu tinggi ngasih pandangannya masing-masing.

Hasil dari nonton tayangan tadi bukan tertarik mengenai ilmu hukum dan berpolitik. Bukan juga ngebuat gw jadi punya penilaian mana yang lebih benar antara DPR atau KPK. Point yg gw ambil adalah betapa enaknya liat orang berpendapat yang didasari dengan ilmu, bukan asal sekedar cuap-cuap. Betapa enaknya liat Prof. Yusril Ihza Mahendra mengungkapkan dengan ilmu yang dia punya bahwa beliau setuju dengan hak angket DPR. Betapa enaknya liat Prof. Mahfud MD memberikan argumentasi bahwa beliau tidak setuju dengan hak angket. Keduanya tidak saling menyalahkan. Keduanya sama-sama menyampaikan dengan ilmu dan cara komunikasi yang briliant. Membuat debat dalam acara tadi benar-benar berbobot, membuat penonton menikmati dan tanpa sadar menambah wawasannya.

Gw rasa, dalam acara tadi, semua orang yang mendapat waktu untuk menyampaikan pendapatnya adalah orang-orang yang memang terpilih. Dipilih berdasarkan keilmuannya. Dipilih berdasarkan wawasannya. Dipilih karena pemikiran-pemikiran yang membangun. Sulit rasanya membayangkan orang yang sama sekali tidak paham dengan tema acara tadi, mendapatkan kesempatan berbicara. Pasti yang disampaikan ngalor-ngidul tidak berbobot.

Itulah mengapa gw selalu kesel kalau beberapa stasiun televisi di Indonesia, ketika menyiarkan siaran sepakbola, komentator yang diundang adalah yang memiliki pengatahuan mengenai sepakbolanya hanya setengah, atau menjadi komentator hanya sekedar untuk mengisi acara sebagai bintang tamu dan dapat honor lalu pulang, sehingga apa yang disampaikan benar-benar tidak berbobot.

Sulit rasanya buat kita untuk tidak kagum dengan komentar Bung Towel dalam menganalisis jalannya pertandingan sepak bola. Selain gaya komunikasinya bagus, analisis yang digunakan juga mendalam dan tepat sasaran serta pengetahuannya luas. Begitu juga halnya dengan Bung Kusnaeni dan Bung Anton Sanjoyo. Keduanya lebih dulu saya kenal sebelum nama pertama muncul di layar kaca sebagai pemberi komentar dan analisis pertandingan yang bagus. Kita (pencinta sepakbola) tentunya bisa dengan sangat jelas dan mudah membedakan bagaimana kualitas antara 3 orang yang saya sebut namanya diawal dengan Bung Roni Pengemanan misalnya atau Bung Titis dalam memberikan ulasan pertandingan. Begitu juga dengan Matteo dalam memberikan ulasan mengenai MotoGP, ataupun dengan Putri Viola atau Lucy Wiryono sebagai presenter acara olahraga yang sangat mendalami mengenai olahraga yang mereka bawakan.

Intinya, dibuat puas dengan acara ILC episode "DPR vs KPK : semakin runcing". Acara tadi juga ngajarin kalau kita harus lebih banyak mendengarkan (pendapat orang lain) daripada berbicara, karena Tuhan memberikan kita 2 telinga dan 1 mulut bukan sebaliknya. Dan ketika kita diberikan kesempatan untuk menggunakan mulut kita untuk berbicara, gunakanlah dengan menyampaikan hal-hal yang positif, hal-hal yang baik, sehingga orang lain yang mendengarkan mendapatkan feedback yang baik juga. Speak good or remain silent.


Dini hari menjelang rebah dibawah rintik hujan dan temaram lampu. Selamat malam.

Kamis, 22 Juni 2017

Warna-Warni Juni

Belum berakhir masih tersisa
Juni yang berbeda tak soal rasa
Senang yang menyedihkan
Sedih yang menyenangkan
Hitam tak melulu redup
Putih tak selamanya hidup
Semua beralaskan perspektif
Sedikit arah bertabur imajinatif
Akal berkelahi
Hati memungkiri

Sekarang malam terakhir bulan Juni di Gorontalo, sebelum besok siang bertemu dengan matahari Jakarta dan bintangnya Bogor hingga bergantinya bulan. Juni di Gorontalo kali ini berwarna-warni. Penuh dengan keunikan dan sekuat tenaga menghindari kebencian. Berjuang menjadi seorang ksatria yang berusaha sepenuh jiwa menahan emosi dan amarah. Menjauhi berbagai penyakit hati yang memiliki nama tinggi hati, iri hati, dengki, dan lain sebagainya. Terkadang seseorang belajar terlalu jauh, namun melupakan yang sederhana dan fundamental. Penyakit hati harus terlebih dahulu dihilangkan sebelum belajar hal yang lainnya. Demikian yang disampaikan seorang guru kepada siswa-siswa di sekolah dasar.

"Dalam politik, kawan bisa menjadi lawan dan lawan bisa menjadi kawan" kalimat tersebut secara spontan keluar dari mulut yang sejak awal saya anggap teman. Seketika sedih dan khawatir kemudian. Bagaimana jika selama ini saya menganggap dia teman tapi dia sebaliknya?

Diam bukan berarti menerima. Diam tak melulu kalah. Diam tak selamanya acuh. Tapi diam memberikan kesempatan untuk hati menetralkan akal pikiran.

Selasa, 20 Juni 2017

Suatu Saat Rindu

Dari kemarin hingga hari kamis lusa, kantor bakal disibukkan dengan pelayanan jasa penukaran uang untuk masyarakat. Antusiasme masyarakat Gorontalo dalam mempersiapkan lebaran dengan menukar uang baru sangat tinggi. Dari pagi hingga sore (bahkan malam) masyarakat tidak henti berdatangan untuk menukar uang yang nantinya akan dibagikan pada sanak keluarga dan saudara.

Sejak saya kecil, tradisi diberikan uang ketika lebaran memang sudah saya rasakan. Mulai dari pecahan terkecil hingga terbesar pasti masuk ke dompet. Saya masih tetap menerima uang lebaran hingga saya kuliah hahaha. Agak malu juga sebenarnya, di usia sudah bekepala 2 masih menerima uang lebaran hehe. Uang lebaran benar-benar berhenti ketika saya sudah bekerja dan di saat itulah saya mulai memberikan kepada keluarga dan saudara.

Hari ini saya memperhatikan seluruh pegawai yang kewalahan menerima permintaan penukaran uang baru. Unik. Suatu saat pasti saya akan merindukan suasana seperti ini, suasana dimana orang-orang yang selama ini jarang bertatap muka atau sekedar muncul di layar HP, tetiba jadi rajin menelpon menjelang lebaran untuk meminta bantuan penukaran uang.

Saya jadi ingat dengan kebiasaan Ibu saya. Beliau terkenal rajin memberikan uang baru ketika lebaran kepada saudara-saudaranya. Uang yang diberikan pun uang yang memang baru layaknya uang yang baru keluar dari Bank. Padahal beliau tidak pernah menukar uangnya ke Bank. Jadi, kebiasaan beliau 2 bulan menjelang lebaran adalah memisahkan uang-uang yang masih bagus yang diterimanya dari pembeli yang berbelanja di warung yang dijaganya. Uang tersebut beliau kumpulkan sampai jumlahnya mencukupi untuk beliau bagikan pada hari lebaran nanti. Suatu pelajaran penting dan berharga yang saya terima secara tidak langsung dari beliau. Preparation. Hal tersebut yang menginspirasi saya ketika memberikan hadiah ulang tahun kepada seseorang waktu sekolah dulu. Sadar uang saku saya tidak berlebih dan diberikan tiap hari (bukan tiap minggu/bulan seperti teman-teman lainnya), 6 bulan sebelum tanggal ulang tahun, saya sudah menyisihkan tiap harinya sebagian uang saku untuk nantinya dibelikan hadiah ulang tahun. Jadi, ketika tanggal ulang tahun tiba, uang sudah siap sedia untuk digunakan.

Kurang dari 1 jam waktunya berbuka. Bingung mau buka dimana dan dengan apa.

Selasa, 20 Juni 2017.
17:15 di depan musholla kantor.

Senin, 19 Juni 2017

Dua Sisi

Puasa tinggal seminggu lagi nih. Alhamdulillah puasa kali ini lancar-lancar aja ga ada kendala berarti. Hampir 50% cuaca selama puasa selalu ujan. Mantaps. Puasa kali ini juga ga diawali atau diiringi dengan sakit. Taun-taun sebelumnya biasanya menjelang puasa suka sakit-sakit manja. Nyokap yang selalu hapal dengan gejala ini. Tapi, alhamdulillah puasa taun ini gejala itu ga muncul.

Puasa taun ini yang jatuh di bulan juni punya arti sendiri buat gw yang kerja di dunia perbankan. Bulan juni jadi salah satu bulan dimana perbankan bakal ngumumin ke publik kinerjanya selama 3 bulan terakhir. Artinya, bulan juni ini jadi puncak dari 2 bulan sebelumnya. Sama halnya kaya kita kalau mau main ke rumah pacar buat pertama kali, pasti kita nyiapin sekeren mungkin biar pacar and keluarganya punya penilaian yang bagus buat kita. Begitu lah kurang lebih analoginya.

Hari kerja yang tinggal seminggu lagi bikin perasaan campur aduk. Di satu sisi pikiran and jiwa udah di rumah buat lebaran, tapi di sisi lainnya sadar kalau kinerja gawean di bulan juni ini masih jauh banget dari target. Memang, hasil bisa diliat dari usaha kita. Effort gw bulan ini buat kerjaan memang minim banget. Hampir semua pikiran di bulan ini dicurahkan buat hal lain, yang alhamdulillahnya udah kelar. Jadi pelajaran. Next, harus bisa ngatur pikiran biar ga ada sisi yang keteteran.

Senin, 19 Juni 2017
16:25 di Ruang Kerja

Jumat, 09 Juni 2017

Menjelang Berbuka

Seharusnya, tiga kali adalah frekuensi yang sudah cukup banyak. Angka 3 juga merupakan nominal yang tidak sedikit. Puasa kali ini adalah bulan ramadhan ketiga saya di Gorontalo. Namun, puasa edisi kali ini terasa sungguh sangat berbeda. Berbeda dalam arti mempunyai ujian yang tidak seperti biasanya. Saya dihadapkan dengan suatu permasalahan yang belum pernah saya hadapi sebelumnya. Unik, tapi menggemaskan dan berubah menjadi taraf yang mengerikan ketika saya menyadari bahwa proses ini tidak kunjung selesai dan saya menyadari bahwa proses ini sudah saya jalankan sejak bulan Februari di tahun ini, dari yang membayangkan yang indak-indah setiap harinya, hingga berubah menjadi mimpi buruk di setiap malamnya.

Setiap pagi terbangun dengan perasaan yang tak menentu. Perasaan di tengah-tengah antara ingin cepat menyelesaikan atau lari dari kenyataan. Sekali lagi, yang menjadi pembeda adalah nasihat-nasihat dari orang tua yang tak hentinya menyirami setiap hari. Nasihat yang terkadang kita terima dengan acuh di kala kondisi sedang normal, tapi begitu mendalam ketika kita menerima dalam kondisi yang cenderung padam.

90 menit lagi akan tiba waktu berbuka puasa. Berbuka kali ini diadakan di kantor dikemas dengan berbagai macam acara. Adakalanya rindu dengan kebiasaan di kampung halaman, dimana jadwal berbuka puasa bersama dengan teman-teman silih berganti berdatangan. 3 tahun terakhir ini hanya bisa pasrah melihat postingan di media sosial teman-teman yang berbuka puasa bersama. Namun saya yakin, akan tiba masanya ketika saya merindukan keheningan di Kota Gorontalo ini. Soon ...

Jumat, di ruang kerja pukul 16:42.