Pages

Selasa, 19 September 2017

Ambisius

Tetiba keinget ilmu yang didapet waktu pertama kali masuk SMA Negeri 1 Bogor (smansa). Terutama lewat Masa Orientasi Sekolah (MOS) dan BLDK OSIS. Ketika itu kakak kelas sering kali memberikan inside kepada kita, peserta MOS dan BLDK OSIS, kalau kita tidak boleh ambisius. Saya waktu itu tidak terlalu banyak paham akan pengertian tersebut, yang jelas kakak kelas memberikan wejangan kepada kita tidak boleh ambisius, dimana hal tersebut tertuang di dalam ajaran agama Islam melalui beberapa hadist. Karena itu sumbernya dari hadits, otomatis saya telan mateng-mateng ilmu yang diberikan kakak kelas tersebut karena sudah pasti benar.



Sejak saat itu hingga sekarang, kata "ambisius" menjadi konotasi negatif bagi diri saya. Setiap ada orang berkata, "Saya memiliki ambisi untuk blablabla". Secara otomatis saya menilai orang itu ambisius dan tidak baik menurut saya. Hanya karena ada kalimat "ambisi".

Saat ini di dunia kerja, saya kembali teringat kata-kata yang sering dilontarkan oleh kakak kelas ketika itu. Sekali lagi, smansa memberikan banyak pelajaran yang mungkin tidak semua orang bisa mendapatkannya.

Senin, 11 September 2017

KEKUATAN PIKIRAN

Dulu waktu duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP) salah satu mata pelajaran favorit adalah olahraga/penjaskes. Mata pelajaran ini kadang dilakuin di lapangan sekolah atau pergi ke gelanggang olahraga kalau materinya atletik. Terkadang juga kita pergi ke kolam renang kalau sudah waktunya pelajaran berenang.

Mungkin, salah satu materi mata pelajaran olahraga yang menjadi momok hampir semua siswa adalah materi atletik, lebih spesifik lagi materi lari. Ya, tidak jarang guru olahraga memerintahkan kita untuk berlari mengelilingi lapangan sepakbola di jogging track yang sudah disediakan. Pada waktu itu, olahraga lari belum sepopuler sekarang, belum menjadi life style di kebanyakan orang. Jadi, wajar kalau kebanyakan dari kita berusaha kabur atau pura-pura sakit kalau materi olahraganya lari. Lebih simple nya lagi dilakukan para kaum hawa, tinggal bilang sedang datang bulan maka bisa terbebas dari materi lari.

Gw tergolong yang ga suka juga sama materi lari ini. Karena menurut gw ga ada unsur fun nya. Terlalu monoton karena hanya lari mengelilingi lapangan beberapa putaran. Just it.

Seperti halnya mata pelajaran lain, mata pelajaran olahraga juga ada ujiannya. Di setiap materi ada ujian untuk pengambilan nilai. Termasuk materi lari ini. Waktu itu, materi ujian lari adalah kita disuruh lari mengelilingi lapangan sebanyak 6 putaran. Sang guru punya list nilai dimana nilai setiap siswa ditentukan dengan seberapa cepat kita bisa menyelesaikan 6 putaran itu. Agar kita bisa lulus, setidaknya kita harus bisa menyelesaikan 6 putaran itu. Ujian pun di mulai. Kita dipanggil satu-satu sesuai urutan di absen. Guru memanggil 6 siswa sekaligus untuk setiap gelombang. Baiknya, kita lari tidak sendirian, buruknya kita bisa semakin tertekan kalau kita ada diurutan terakhir. Perang pikirian mulai berjalan.

Singkat cerita, gw selalu bisa melewati ujian lari ini dengan baik, bisa menyelesaikan 6 putaran sampai selesai, bahkan tidak jarang tergolong menjadi yang tercepat. Yang menjadi senjata rahasia gw setiap ujian lari adalah KEKUATAN PIKIRAN. Ini yang bakal gw bahas.

Setiap ujian lari, gw selalu bermain dengan pikiran gw. Sebelum lari gw udah nancepin dengan tajem dipikiran gw kalau jumlah putaran yang harus diberesin adalah 6. Ga lebih ga kurang. 6 putaran itu jadi goal gw. Jadi, ketika gw sedang lari, gw ajak diri gw ngobrol, ayo deno 5 putaran lagi (ketika gw berhasil melewati 1 putaran). Ayo deno 4 putaran lagi (ketika gw berhasil melewati 2 putaran). Ayo deno 3 putaran lagi (ketika gw berhasil melewati 3 putaran. Dan seterusnya. Itu yang menjadi senjata gw buat bisa menyelesaikan goal gw, yaitu 6 putaran. Gw selalu bilang ke diri gw sendiri, "ayo sedikit lagi, tinggal segini lagi". Di saat badan gw udah letih, kaki udah kerasa berat buat melangkah, gw pacu pikiran gw dengan kalimat, "ayo sedikit lagi, tinggal segini putaran lagi". Kalimat itu yang menemani sepanjang gw lari sampai akhirnya bisa menyelesaikan ujiannya.

Kenapa gw bisa bilang begitu? Karena gw udah tau goalnya. Gw udah tau jumlah putaran yang harus gw beresin adalah 6. Apa jadinya kalau gw ga tau jumlah putaran yg harus gw beresin? Gw punya cerita soal ini.

Waktu kuliah, gw ikut tim futsal kampus. Waktu itu kita lagi mempersiapkan buat ikut kejuaraan nasional di jogja. Kita 1 tim melalukan training centre di daerah pantai pangandaran. Singkat cerita, salah satu materi yang pelatih kasih buat kita adalah lari. Waktu itu sore-sore kita disuruh lari dipinggir pantai dengan jarak yang sangat jauh. Walaupun jauh, kita tau dan bisa liat dimana ujung finishnya. Dengan susah payah karena lari di atas pasir yang membuat kaki menjadi lebih berat melangkah, kita semua berhasil sampai finish dan balik lagi ke tempat awal. Tentu saja, sepanjang gw lari, gw ajak diri gw ngobrol, "Ayo deno dikit lagi. Finish nya dikit lagi".

Lusanya, kita disuruh lari lagi mengelilingi sekitaran pantai. Bedanya kali ini, pelatih ngga ngasih tau ke kita berapa putaran yang harus kita jalanin. Atau berapa menit kita harus berlari. Kita hanya diperintahkan lari mengelilingi pantai sampai si pelatih meniup peluit tanda kita sudah selesai. Apa yang terjadi pada gw pada sesi latihan ini? PINGSAN. Iya pingsan. Ini adalah pingsan pertama seumur hidup gw. Kenapa bisa? Karena gw ga bisa ajak diri gw ngobrol. Gw ga bisa ajak badan gw ngobrol. Gw ga bisa bujuk kaki gw buat terus melangkah. Karena gw ga tau ini bakal beres sampai kapan.

Di saat badan gw udah lemes, gw coba bujuk dia dengan, "ayo dikit lagi, MUNGKIN 3 putaran lagi beres". Eh ternyata belum. Di saat kaki gw udah gemeter, gw coba bujuk dengan, "ayo dikit lagi, MUNGKIN 2 putaran lagi selesai". Masih belum selesai juga. Sampai akhirnya badan dan kaki gw udah ga bisa percaya dengan omongan di pikiran gw. Pikiran gw ga bisa ngasih ngepastian apa goalnya. Dimana tujuannya. Sampai kapan atau sampai berapa putaran lari ini bakal beres. Itu yang ngebuat gw ga bisa nyelesain sampai finis, karena di awal gw ga tau apa tujuannya.

Banyak pelajaran yang gw ambil dari 2 kejadian itu.

Sekarang, sedikit banyak gw lagi ngalamin kejadian yang kedua. Gw ga tau sampai kapan kerja di Gorontalo. Kerja yang jauh dari kota tercinta. Kota tempat gw lahir, tumbuh, dan berkembang. Jelas berbeda kalau dibandingkan dengan temen-temen gw. Ada yang kuliah di luar negeri jauh dari Bogor, tapi dia tau sampai kapan dia di luar negeri.

Eh lu sampe kapan gawe di kalimantan? Gw 2018 beres terus balik lagi ke Bogor. Eh lu sampe kapan di Korea? Insya Allah 2 taun kelar lah. Eh lu sampe kapan dinas di luwuk? Insya Allah 1,5 taun. Eh lu sampe kapan kuliah di Inggris? Insya Allah taun ini kelar.

Lu sendiri deno, sampe kapan di Gorontalo? Lalu hening, karena gw ga pernah tau apa jawaban pastinya. Sedih.

Senin, 17 Juli 2017

Berilmu

Udah 3 malam nontonin tayanyan ILC episode "DPR vs KPK : Semakin Runcing". Wajar sampe 3 malem nontonnya, soalnya di Youtube dibagi jadi 8 part. Total waktunya mungkin lebih dari 3 jam atau mungkin sampe 4 jam, yang jelas lama dan mengasyikkan. Hal yang dibahas soal hukum and politik. Bener2 mendalam, bener2 ilmu tinggi. Gw sendiri sebenernya kurang tertarik and kurang paham mengenai politik dalam arti mendalam dan dalam arti luas dan dalam arti yang sebenar-benarnya. Hanya saja melihat tayangan kali ini bener-bener ngebuat gw kuat megangin hp dalam waktu lama buat liat orang-orang yang berilmu tinggi ngasih pandangannya masing-masing.

Hasil dari nonton tayangan tadi bukan tertarik mengenai ilmu hukum dan berpolitik. Bukan juga ngebuat gw jadi punya penilaian mana yang lebih benar antara DPR atau KPK. Point yg gw ambil adalah betapa enaknya liat orang berpendapat yang didasari dengan ilmu, bukan asal sekedar cuap-cuap. Betapa enaknya liat Prof. Yusril Ihza Mahendra mengungkapkan dengan ilmu yang dia punya bahwa beliau setuju dengan hak angket DPR. Betapa enaknya liat Prof. Mahfud MD memberikan argumentasi bahwa beliau tidak setuju dengan hak angket. Keduanya tidak saling menyalahkan. Keduanya sama-sama menyampaikan dengan ilmu dan cara komunikasi yang briliant. Membuat debat dalam acara tadi benar-benar berbobot, membuat penonton menikmati dan tanpa sadar menambah wawasannya.

Gw rasa, dalam acara tadi, semua orang yang mendapat waktu untuk menyampaikan pendapatnya adalah orang-orang yang memang terpilih. Dipilih berdasarkan keilmuannya. Dipilih berdasarkan wawasannya. Dipilih karena pemikiran-pemikiran yang membangun. Sulit rasanya membayangkan orang yang sama sekali tidak paham dengan tema acara tadi, mendapatkan kesempatan berbicara. Pasti yang disampaikan ngalor-ngidul tidak berbobot.

Itulah mengapa gw selalu kesel kalau beberapa stasiun televisi di Indonesia, ketika menyiarkan siaran sepakbola, komentator yang diundang adalah yang memiliki pengatahuan mengenai sepakbolanya hanya setengah, atau menjadi komentator hanya sekedar untuk mengisi acara sebagai bintang tamu dan dapat honor lalu pulang, sehingga apa yang disampaikan benar-benar tidak berbobot.

Sulit rasanya buat kita untuk tidak kagum dengan komentar Bung Towel dalam menganalisis jalannya pertandingan sepak bola. Selain gaya komunikasinya bagus, analisis yang digunakan juga mendalam dan tepat sasaran serta pengetahuannya luas. Begitu juga halnya dengan Bung Kusnaeni dan Bung Anton Sanjoyo. Keduanya lebih dulu saya kenal sebelum nama pertama muncul di layar kaca sebagai pemberi komentar dan analisis pertandingan yang bagus. Kita (pencinta sepakbola) tentunya bisa dengan sangat jelas dan mudah membedakan bagaimana kualitas antara 3 orang yang saya sebut namanya diawal dengan Bung Roni Pengemanan misalnya atau Bung Titis dalam memberikan ulasan pertandingan. Begitu juga dengan Matteo dalam memberikan ulasan mengenai MotoGP, ataupun dengan Putri Viola atau Lucy Wiryono sebagai presenter acara olahraga yang sangat mendalami mengenai olahraga yang mereka bawakan.

Intinya, dibuat puas dengan acara ILC episode "DPR vs KPK : semakin runcing". Acara tadi juga ngajarin kalau kita harus lebih banyak mendengarkan (pendapat orang lain) daripada berbicara, karena Tuhan memberikan kita 2 telinga dan 1 mulut bukan sebaliknya. Dan ketika kita diberikan kesempatan untuk menggunakan mulut kita untuk berbicara, gunakanlah dengan menyampaikan hal-hal yang positif, hal-hal yang baik, sehingga orang lain yang mendengarkan mendapatkan feedback yang baik juga. Speak good or remain silent.


Dini hari menjelang rebah dibawah rintik hujan dan temaram lampu. Selamat malam.

Kamis, 22 Juni 2017

Warna-Warni Juni

Belum berakhir masih tersisa
Juni yang berbeda tak soal rasa
Senang yang menyedihkan
Sedih yang menyenangkan
Hitam tak melulu redup
Putih tak selamanya hidup
Semua beralaskan perspektif
Sedikit arah bertabur imajinatif
Akal berkelahi
Hati memungkiri

Sekarang malam terakhir bulan Juni di Gorontalo, sebelum besok siang bertemu dengan matahari Jakarta dan bintangnya Bogor hingga bergantinya bulan. Juni di Gorontalo kali ini berwarna-warni. Penuh dengan keunikan dan sekuat tenaga menghindari kebencian. Berjuang menjadi seorang ksatria yang berusaha sepenuh jiwa menahan emosi dan amarah. Menjauhi berbagai penyakit hati yang memiliki nama tinggi hati, iri hati, dengki, dan lain sebagainya. Terkadang seseorang belajar terlalu jauh, namun melupakan yang sederhana dan fundamental. Penyakit hati harus terlebih dahulu dihilangkan sebelum belajar hal yang lainnya. Demikian yang disampaikan seorang guru kepada siswa-siswa di sekolah dasar.

"Dalam politik, kawan bisa menjadi lawan dan lawan bisa menjadi kawan" kalimat tersebut secara spontan keluar dari mulut yang sejak awal saya anggap teman. Seketika sedih dan khawatir kemudian. Bagaimana jika selama ini saya menganggap dia teman tapi dia sebaliknya?

Diam bukan berarti menerima. Diam tak melulu kalah. Diam tak selamanya acuh. Tapi diam memberikan kesempatan untuk hati menetralkan akal pikiran.

Selasa, 20 Juni 2017

Suatu Saat Rindu

Dari kemarin hingga hari kamis lusa, kantor bakal disibukkan dengan pelayanan jasa penukaran uang untuk masyarakat. Antusiasme masyarakat Gorontalo dalam mempersiapkan lebaran dengan menukar uang baru sangat tinggi. Dari pagi hingga sore (bahkan malam) masyarakat tidak henti berdatangan untuk menukar uang yang nantinya akan dibagikan pada sanak keluarga dan saudara.

Sejak saya kecil, tradisi diberikan uang ketika lebaran memang sudah saya rasakan. Mulai dari pecahan terkecil hingga terbesar pasti masuk ke dompet. Saya masih tetap menerima uang lebaran hingga saya kuliah hahaha. Agak malu juga sebenarnya, di usia sudah bekepala 2 masih menerima uang lebaran hehe. Uang lebaran benar-benar berhenti ketika saya sudah bekerja dan di saat itulah saya mulai memberikan kepada keluarga dan saudara.

Hari ini saya memperhatikan seluruh pegawai yang kewalahan menerima permintaan penukaran uang baru. Unik. Suatu saat pasti saya akan merindukan suasana seperti ini, suasana dimana orang-orang yang selama ini jarang bertatap muka atau sekedar muncul di layar HP, tetiba jadi rajin menelpon menjelang lebaran untuk meminta bantuan penukaran uang.

Saya jadi ingat dengan kebiasaan Ibu saya. Beliau terkenal rajin memberikan uang baru ketika lebaran kepada saudara-saudaranya. Uang yang diberikan pun uang yang memang baru layaknya uang yang baru keluar dari Bank. Padahal beliau tidak pernah menukar uangnya ke Bank. Jadi, kebiasaan beliau 2 bulan menjelang lebaran adalah memisahkan uang-uang yang masih bagus yang diterimanya dari pembeli yang berbelanja di warung yang dijaganya. Uang tersebut beliau kumpulkan sampai jumlahnya mencukupi untuk beliau bagikan pada hari lebaran nanti. Suatu pelajaran penting dan berharga yang saya terima secara tidak langsung dari beliau. Preparation. Hal tersebut yang menginspirasi saya ketika memberikan hadiah ulang tahun kepada seseorang waktu sekolah dulu. Sadar uang saku saya tidak berlebih dan diberikan tiap hari (bukan tiap minggu/bulan seperti teman-teman lainnya), 6 bulan sebelum tanggal ulang tahun, saya sudah menyisihkan tiap harinya sebagian uang saku untuk nantinya dibelikan hadiah ulang tahun. Jadi, ketika tanggal ulang tahun tiba, uang sudah siap sedia untuk digunakan.

Kurang dari 1 jam waktunya berbuka. Bingung mau buka dimana dan dengan apa.

Selasa, 20 Juni 2017.
17:15 di depan musholla kantor.